Bolehkah marah terhadap anak?


Benarkah secara psikologi, orang tua tidak diperkenankan memarahi anak-anak? atau tidak diperkenankan mengarahkan dan justru diminta untuk membebaskan mereka dalam berperilaku?. Pertanyaan reflektif tersebut saya temukan sendiri di lapangan di kalangan para bunda.

Saya beberapa kali menemui hal yang sepertinya butuh untuk diluruskan. Diantaranya, pertama, seorang buda muslimah membiarkan anaknya makan dengan tangan kiri dengan alasan di atas (psikologi). Menurut pengetahuan yang pernah didapatkannya, bahwa berdasarkan ilmu psikologi orang tua harus membiarkan anaknya bebas berekspresi dan berperilaku alias tidak membatasi anak-anak. Dengan alasan masih anak-anak.

Hal kedua, seorang bunda muslimah juga, membiarkan anaknya membolos sekolah semaunya anaknya dengan alasan yg sama (psikologi).

Ketiga, di lain cerita seorang bunda muslimah juga membiarkan anaknya marah2 terhadap orang lain. dan cerita2 lain yang hampir sama intinya.

—————————–

Kepada para bunda, awalnya saya agak ‘risih’ mendengar pemahaman2 bunda di atas karena membawa-bawa alasan psikologi. (karena latar belakang saya juga psikologi)

Bisa dibayangkan kah bunda, ketika anak-anak dimana secara psikologi perkembangan mereka masih dalam tahap pengenalan dan pembiasaan akan nilai-nilai moral yang harusnya diajarkan oleh lingkungannya, tapi justru kesempatan untuk mengenali nilai2 moral itu telah ‘dihancurkan’ oleh lingkungan terdekatnya sendiri? terbayangkan apa jadinya akan2 ketika besar nanti?

lho katanya tidak boleh juga memarahi anak2?

Sebenarnya, apa arti dari ‘marah’  harus dipahami dan disatukan persepsinya terlebih dahulu. Marah dalam konteks ini adalah perasaan tidak menerima ketika melihat sesuatu yg tidak baik, tidak pada tempatnya, merugikan orang lain, menyalai nilai sosial, dalam hal ini para bunda ‘wajib’ marah. Dont stop.

Seperti apa marahnya?

Disinilah PR besarnya para bunda, orang tua bahkan pendidik di sekolah juga untuk bgaimana  bisa meramu energi marah dengan cara2 yang POSITIF dan KREATIF. Sehingga anak2 tidak merasa terhakimi, tidak merasa di marahi, direndahkan dan tetap merasa dihargai dengan kesalahannya yang dia sendiri tidak memahami bahwa mereka sedang salah. Setelah itu diharapkan nilai-nilai moral mulai tertanam dalam diri anak tanpa ada perasaan yang menyaktkan. Nilai-nilai moral yang positif inilah yang nantinya akan tumbuh terus dalam diri anak hingaa ia dewasa kelak.

Bagaimana teknisnya?

Rangkul anak, peluk anak, ajak bicara pelan-pelan dengan hati dan bukan di tengah banyak orang, beri hadiah yang disukai ketika anak mau mendengar atau bahkan mau menjalankan nasihat para bunda. Jangan lupa diberi pujian setiap hal kecil positif yang anak2 lakukan.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s