Psychology of Ka’ab bin Malik : bout id, ego and super ego when Tabuk’s war


Psikologi Kaáb bin Malik: pertarungan id, ego dan super ego ketika perang Tabuk

Baru kali ini membaca secara langsung sebuah hadist yang lumayan panjang (kurang lebih ada 6 halaman dengan spasi 1 pada ukuran kertas kurang lebih sama dengan A4 pada kitab riyadus shalihin bab 2. taubat), yang berkisah tentang salah seorang sahabat mulia rasulullaah yaitu Kaáb bin Malik dan dikisahkan langsung oleh putranya yaitu Abdullaah bin Kaáb bin Malik dengan status hadist nya muttafaq álaih. Dalam hadist itu Abdullaah mengisahkan bagaimana Kaáb menceritakan kisahnya ketika tidak ikut serta dalam perang Tabuk bersama rasulullaah.

Selama ini, saya hanya mendengar dari kajian-kajian, atau secuil artikel yang menukil kisah ini. Tanpa menyertakan detail seperti apa yang ada dalam hadist tersebut. Menariknya adalah, dalam hadist tersebut Kaáb benar-benar menyampaikan tentang apa yang dirasakannya saat itu, bagaimana kegundahannya, keresahannya, serta kekhawatiran yang luar biasa terjadi pada dirinya, dengan gamblang ia ceritakan dalam hadist tersebut. Dalam penelitian kualitatif, mungkin hadist ini bisa dijadikan data kualitatif untuk dapat dianalisa karena kualitas dan kekuatan dari kandunagn isi cerita dari Kaáb sendiri. Saya kutipkan beberapa ukngkapannya yang bisa kita bedah bersama dari sisi psikologis.

‘ketika saya tahu Rasulullah saw telah kembali dari Tabuk, saya merasa sedih, saya mulai mencari alasan untuk berdusta. Saya berkata dalam hati, ‘dengan cara apa saya bisa lepas dari murka beliau besok’. Saya meminta beberapa pendapat dari keluarga saya untuk mencari solusinya. Ketika dikatakan bahwa rasulullah telah datang, maka lenyaplah kebatilan dari diriku sehingga saya tahu bahwa saya tidak bisa terlepas diri dengan berdusta kepada beliau terus menerus. Oleh karena itu, saya bertekad untuk jujur.’

 

Menggunakan teori Freud tentang struktur kepribadian manusia yang terbagi menjadi tiga unsur yaitu id, ego dan super ego. Dimana id adalah dorongan naluriah seorang individu yang memiliki prinsip kenikmatan manusiawi. Sedangkan ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita, ia memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Maka ketika Kaáb akhirnya tidak berangkat bersama Rasulullaah karena godaan-godaan naluriah manusianya, di sinilah unsur id dan ego mendominasi diri sahabat Kaáb. Namun ketika Kaáb mulai terpikir untuk berdusta tapi akhirnya ia urungkan, maka di sini super ego Kaáb telah mendominasi.

Menurut Freud, kepribadian yang sehat adalah ketika terjadi keseimbangan antara id, ego dan super ego. Seperti halnya yang telah dirasakan Kaáb saat itu. Ia katakan dalam kisahnya,

‘Demi Allah, setelah Allah member petunjuk kepadaku tentang Islam sama sekali belum pernah Allah memberikan kenikmatan kepadaku yang lebih besar dalam perasaan jiwku, melebihi ungkapan jujur saya kepada rasulullaah’

 

Perasaan nikmat yang luar biasa yang diungkap oleh Kaáb menjadi bagian dari tanda kepribadian yang sehat. Kenapa? Freud dalam teori kepribadiannya memiliki istilah defence mechanism atau mekanisme pertahanan diri (individu), istilah ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana seorang individu itu memiliki kecenderungan mempertahankan dirinya dengan berbagai bentuk mekanisme pertahanannya. Salah satunya dengan cara mencari-cari alasan demi ‘diri’’ nya. Individu yang selalu melakuan mekanisme pertahanan diri merupakan individu dengan kepribadian yang belum seimbang antara id, ego dan super ego, yang berarti juga bahwa individu tersebut memiliki kepribadian kurang sehat.

Kecenderungan manusia masih berat mengatakan dirinya dengan apa adanya. Misal: ‘iya, saya salah. Saya terlalu mengedepankan prasangka buruk saya’, ‘iya saya tadi tidak bisa mengendalikan emosi saya, maafkan saya’, ‘saya belum pernah membaca tentang ini, jadi saya kurang tahu tentang hal itu’, ‘saya tidak diet kok, memang sedang irit duit hehe’ dst. Padahal hal tersebutlah yang seharunya dimunculkan dari pada menutupi dan lebih mempertahankan diri dengan menghiasi diri dengan alasan-alasan yang terus menerus diciptakan. Hasilnya individu seperti ini akan memiliki kepribadian yang kurang sehat karena terperdaya oleh alasan yang ia ciptakan sendiri.

Stressing point nya adalah tidak malu mengakui kekurangan atau kesalahan diri sendiri merupakan bagian dari upaya menyehatkan kepribadian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s