Healthy Fasting During Pregnancy: perspective of psychology


Sehat Berpuasa Saat Hamil : perspektif psikologi

Apa sih rahasianya agar bisa tetap berpuasa saat hamil? Dan tubuh juga tetap sehat. Bukankah orang hamil dapat keringanan untuk tidak berpuasa?

Saya ingin berkisah terlebih dahulu. Boleh ya. Ada seorang ibu rumah tangga yang saya kenal, tinggalnya di Bantul Yogyakarta. Beliau dikenal sebagai pembicara khusus tentang parenting, memiliki yayasan pendidikan dan sekaligus menjadi konselor pendidikan, hal ini dipengaruhi oleh pengalaman di lapangan yang beliau miliki. Kalau boleh menyebut nama, beliau adalah Bu. Nunung Bintari. Dalam sebuah seminar beliau berkisah (semoga saya tidak salah mengingat kisahnya).

 

Salah satu anak beliau lahir pada saat Bu.Nunung menjalankan ibadah puasa, detik-detik melahirkan sang bidan menyarankan beliau untuk minum air putih, artinya puasa juga batal karena belum masuk maghrib. Beliau menolak karena merasa masih kuat. Sampai sang bayi lahir beliau tetap menunggu waktu berbuka untuk berbuka puasa.

Well, apa yang terjadi? Ketika usia sang anak tersebut kira-kira masih kelas 3 SD beliau tak susah2 mendidik sang anak untuk puasa wajib ramadhan penuh sehari dalam sebulan. Padahal beliau juga belum menghendaki seperti ini, mengingat pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologisnya yang masih belum sekuat orang dewasa. Tetapi Allaahuakbar, sang anak sendiri yang meminta izin untuk ikut berpuasa penuh. Disimpulkan dan dicari sendiri hikmah dan pesan kauniyahNya yaaa J. END!

Agama Islam memang tak pernah memaksa umatnya dalam beribadah terutama saat fisik tak memungkinkan untuk menjalankan. Keringanan pun telah diatur bagi mereka yang tak mampu. Tetapi ternyata ketika kita pun berusaha sebaik mungkin agar kita mampu beribadah secara sempurna Allah pun akan membayar semuanya kelak. Dalam bentuk balasan yang tidak pernah disangka-sangka.

Baik, kembali ke topik.

Apa rahasianya sehat berpuasa saat hamil?

 

Ada dua aspek yang tak terpisahkan untuk kita perhatikan saat berpuasa terlebih saat hamil, yaitu: aspek fisik dan psikologis.

Kenapa aspek fisik? jelas. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang melibatkan kinerja fisik, maka seseorang harus memperhatikan faktor nutrisi atau kandungan gizi dalam makanan yang diasup selama berpuasa. Sayur, buah, air putih, protein nabati dan hewani, karbohidrat dst dengan porsi yang proporsional tentunya harus terus diperhatikan. Untuk poin ini saya kira semua sudah paham di luar kepala. Nah ternyata memperhatikan aspek ini saja belumlah cukup. Oke, next

Nah, yang kedua ini yang tak kalah pentingnya. Faktor psikologis. (maklum dulu belajarnya tentang psikologi). Eits, jangan pernah remehkan faktor yang satu ini. Karena efeknya juga luar biasa terhadap tubuh atau fisik kita. Benarkah? Masa sih? Lihat aja, ada mahasiswa atau karyawan stres tapi yang sakit lambungnya jadilah maag dst. (Ini ada penjelasannya sendiri, stres vs maag). Ok next, J

 

Perspektif psikologi

Dalam psikologi ada istilah tentang ‘positive body’. Apa itu? Positive body adalah kondisi dimana tubuh individu memiliki fungsi fisik dan fisiologis yang optimal. Positive body memiliki lima mekanisme utama yang membentuknya. Nah, lima mekanisme inilah yang menjadi inti artikel ini sebenarnya. 5 hal tersebut Yaitu: human touch (sentuhan sesama), positive sexual behavior (perilaku seksual positif), physical activity (aktifitas fisik), nutrition (nutrisi) dan physical pain (sakit fisik). Nah, merujuk pada konsep positive body dan lima mekanisme yang membentuknya, dapat disimpulkan bahwa fungsi fisik dan fisiologis dapat berfungsi optimal itu tidak bisa lepas dari aspek2 psikologis. Kita akan bedah satu per satu. Jadi, pada dasarnya perspektif psikologi ini pun dapat diterapkan pada semua individu pada umumnya. *Khusus untuk bumil, hanya akan dijelaskan sampai poin ke empat.

Pertama, Human touch (sentuhan manusia). Banyak studi telah menemukan tentang pengaruh positif dari perilaku bersentuhan sesama individu termasuk hugging (pelukan). Selama beberapa dekade terakhir , psikolog telah menjadi semakin sadar akan pentingnya sentuhan manusia untuk kesejahteraan fisik dan psikologis ( Gallace dan Spence , 2010) . Touch Research Institute telah melakukan ratusan studi klinis pada pentingnya sentuhan interpersonal ( terapi pijat , refleksi klinis , memeluk dan sebagainya ) pada kesejahteraan fisik dan psikologis pada kedua populasi klinis dan normal (Field et al ., 2004; Gallace dan Spence , 2010). Studi ini telah memberikan dasar untuk pengembangan ‘touch science’. Nah, bagi ibu hamil jangan remehkan hal ini. Lakukanlah hal-hal yang sifatnya sepele agar mendapatkan efek dari human touch tersebut. Paling mudah pastinya mendapatkannya dari pasangan dengan mencium tangannya saat berslaman, meminta untuk dicium kening, ataupun berpelukan sebentar. Pelukan antara pasangan juga dapat mengurangi kadar kortisol , tekanan darah ( Grewen et al , 2003; Cahaya et al , 2005). Eits, tidak melulu pada pasangan. Bisa juga dengan sahabat dan karib kerabat saat bersillaturrahim, juga bisa mendapatkan kesempatan ‘emas’ ini.  Kedua, positive sexual behavior (perilaku seksual positif). Pada poin ini telah mengingatkan saya akan dibolehkannya seorang suami istri berhubungan intim ketika malam hari saat berpuasa. Bisa dibayangkan jika dalam Islam diatur bahwa suami istri tidak boleh melakukan hal tersebut selama satu bulan. Islam sangat psikologis, tapi psikologi belum tentu islami hehe Penjelasan ilmiahnya, secara fisik, para ilmuwan telah menemukan bahwa terlibat dalam hubungan seksual dapat memiliki dampak mengejutkan menguntungkan, sehingga dalam kondisi fisik yang lebih baik, mengurangi darah tekanan, peningkatan fungsi sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko kanker (prostat) dan bahkan kehidupan yang lebih panjang (Janssen dan Everaerd, 1993; Davey Smith et al, 1997;. Brody et al).

Ketiga, physical activity (aktifitas fisik). Nah loe, masih sering sekali ditemukan di sekitar kita (teman kos, keluarga, dst) selalu beralasan untuk tidak beraktifitas fisik saat berpuasa, hanya dengan alasan berpuasa dan memilih full sleep atau aktifitas lain yang sifatnya tidak terlalu dinamis (nge-game, nonton tv), begitu juga dengan bumil (ibu hamil) tetap perlu aktifitas fisik yang menyenangkan. Sehingga memberikan efek rilek dan menenangkan. Kondisi seperti ini akan berpengaruh positif juga terhadap fisik. Lalu?

Aktivitas fisik tidak hanya bermanfaat meningkatkan fungsi fisik , sehingga mengurangi risiko penyakit tetapi juga dapat membuat seseorang bahagia , lebih bersemangat , percaya diri , mandiri dan bahkan membuat kita lebih pintar ( Ratey , 2008). Keempat, nutrition (nutrisi). Lebih detail silahkan dicari sendiri. Intinya, selain konsumsi kelompok makanan yang tertentu yang bernutrisi, maka efek positifnya adalah dapat mempengaruhi mental, kesehatan dan kesejahteraan kita (Benton dan Donohoe , 1999) .

Semoga disaat hamilpun kami bisa tetap menjalankan ibadah puasa ramadhan, aamiin

*artikel ini di tulis berdasar latar belakang pengetahuan dan self experience dari penulis. Salam, Ana Faqir Ilmu.

Referensi utama: positive psychology, theory, research and application.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s