Cintaku hanya untuk jodohku


Begitulah kira-kira prinsip saya sejak dalam masa ‘penantian’. Kenapa tiba-tiba ingin menulis artikel ini? Apa yang saya lakukan dengan memiliki prinsip di atas (cintaku hanya untuk jodohku)? Dan apakah Berarti sebelum menikah tidak pernah jatuh cinta atau tertarik dengan seorang laki-laki? Kenapa saya berani berprinsip seperti ini? Ya beginilah . . . .

Jujur, menulis artikel dan terbesit dengan judul ini juga karena ada serentetan kejadian yang melatar belakangi sebelumnya akhir2 ini. Apakah kejadian2 itu? Rahasia hehe. Intinya, dari kejadian2 itu membuat saya ingin berbagi tentang pengalaman pribadi yang satu ini. Semoga yang sedang terlena dan terobsesi dengan sebuah rasa yang belum sah, tapi malah menikmati dengan memupuknya segera kembali sadar. Aamiin. OK, next . . .

Keinginan menikah yang sebenar2nya itu baru terkumpul awal tahun 2012 tepat ketika saya hijrah ke kota gudeg Yogyakarta menjemput panggilan kampus UGM untuk belajar psikologi di sana. Keinginan ini disambut permintaan guru ngaji saya yang baru (murobbi) di Yogyakarta, untuk mengumpulkan proposal nikah. Ini kali pertama saya membuat proposal itu. Sebelumnya ketika di kota Malang, saya masih menolak membuatnya karena saya sendiri sadar bahwa saya masih butuh banyak ilmu dan persiapan.

Akhirnya, saya baru merasakan betapa sulitnya membuat proposal nikah yang hanya berisi beberapa halaman saja. Rasanya ini pertaruhan antara iman dan nafsu. Butuh penetralan pikiran dan perasaan, serta banar2 menghidupkan hati terdalam saat menulisnya. Agak lebay , tetapi begitulah kira-kira yang bisa saya gambarkan, tentang betapa sulitnya membuat proposal nikah yang pasti juga akan dipertanggung jawabkan. Dua tiga hari tidak cukup. Ahh tapi alhamdulillaah sudah melewati tangga ini hehe

Lalu dimana saya memperjuangkan prinsip saya yang satu itu? Cintaku hanya untuk jodohku. TEPAT sekali. Saya tidak ragu menuliskan dalam proposal nikah saya (bisa di cek ke murobbi hehe lebay) dalam poin kriteria calon pasangan yang diinginkan, eksplisit saya tulis salah satu kriterianya adalah ‘seseorang yang belum saya kenal sebelumnya’.  Ditengah sulitnya membuat proposal nikah, karena berpikir bahwa proposal ini akan dibaca oleh ‘orang lain’, saya dipermudah untuk tidak ragu menuliskan criteria itu. Memangnya saya tidak punya seseorang dimana saya simpati padanya dan saya mengenalnya? Ah tak perlu saya jawa bukan?, selama teman2 masih menganggap saya manusia pasti tahulah jawabannya. Good, Right! Dan sayapun berjodoh dengan orang yang saya belum kenal dan ketahui sebelumnya. Bisa dikata ‘ujug-ujug teko’ dengan kalimat ‘saya boleh sillaturahim ke rumah anti? Berkenalan dengan orang tua anti’. Allaahu akbar.

‘wahai saudariku yang sedang dilena asmara, keraguan apalagi yang kau pertanyakan tentang takdir terbaikNya? Tidakkah kau baca ayat2 kauniyahNya di sekitarmu yang mentarbiyah kita semua bahwa pemilik jodoh kita adalah Dia yang Maha mengurusi diri kita. Bukan, sama sekali bukan kita yang mengtahui siapa jodoh terbaik untuk kita. Lalu kenapa kau masih bertahan menikmati rasa yg belum sah dengan memupuknya setiap hari, dengan chatting dst. Kaupun menjadi pandai berdalih, bahwa chatt ini hanya untuk diskusi dst. Mencari2 celah agar satu forum dg nya. Yang aku heran, bukankah kau juga telah mempelajari sekian arti dan tafsir dari asmaúl husna Nya. Sampai di sini saja saudariku aku mengingatkanmu. Ini salah satu bukti sayangku padamu. Sampai bertemu di jannahNya. Aamiin.’

*Meluapkan sedikit kata hati saya saat ini

Oke, kenapa saya berprinsip seperti ini?

Ini bukan prinsip yang instan saya dapatkan untuk diri saya. Ya, ada serentetan perjalanan ilmu dan pengalaman yang mendidik saya sehingga saya berprinsip seperti ini. BENAR, saya hanya ingin menjaga kemurnian niat saya untuk menikah (termasuk ketika menulis kan ini, semoga Allah pun ridlo dengan saya menuliskan ini).

Okelah, kisah Ali dan Fatimah adalah salah satu yang bisa kita teladani bersama, masalahnya saya sadar saya belum bisa seperti Fatimah, dimana syaitan pun tidak mengetahui adanya rasa suka dalam hati Fatimah kepada Ali. Saking luar biasanya beliau menjaga rasa itu. Nah, karena saya tak berani menjamin bahwa saya telah lolos dan mampu menjaga rasa itu, maka sayapun merasa belum pantas meneladani kisah Ali dan Fatimah dan lebih memilih prinsip ini. Meski diam2 saya masih sempat berpikir (kala belum menikah) jika saya akhirnya berjodoh dengan orang yang saya kenal dan saya sudah ada rasa simpati dengannya (dengan catatan tetap dengan cara surgawi) itu adalah bonus dari Allah dan memang sudah Allah tuliskan dalam lauh mahfudzNya. Bukan karena saya yang ‘memaksakan’ kehendakNya.

Terakhir, karena Saya lebih percaya Allah dari pada nafsu dan akal saya sendiri. Saya lebih tenang jika saya mengikuti kehendakNya dari pada kehendak saya sendiri. Saya yakin bahwa Allah lah yang Maha mengatahui yang terbaik untuk saya. Dialah yang Maha luas ilmunya, Maha penggenggam segala kejadian dan keajaiban. Terkhusus soal jodoh.

Apakah sudah ada cinta antara kami (saya dan suami) saat ini? Jawabannya di artikel sebelumnya ‘tiga bulan perjalanan Zahra’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s