Apa yang perlu dipersiapkan sebelum akad nikah?


Hampir semua artikel yang saya tulis, berangkat dari peristiwa yang saya lihat dari orang lain ataupun yang sedang saya alami sendiri. Termasuk tentang artikel ini.

Ya, sejak saya menikah, beberapa kali mendapat pertanyaan yang sama, di mana menurut saya ini adalah pertanyaan mendasar dan tak kalah penting untuk dipersiapkan. Bukan berarti tidak ada yang bertanya seputar teknis ya. Tetap saja ada pertanyaan seputar teknis seperti, mbak pertanyaan apa saja yang mbak ajukan ke ihwan waktu forum ta’aruf? Bagaimana rasanya setelah akad padahal belum pernah kenal sebelumnya? De el el dst. Nah, satu pertanyaan yang membuat saya berpikir bahwa ini pertanyaan lebih penting dari sekedar pertanyaan seputar teknis prosesi pernikahan.

Pertanyaan tersebut adalah, Mbak, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum akad?. Pertanyaan ini melayang via fb, sms, ataupun telpon langsung dari orang yang berbeda. Saya pun jadi berpikir apa ya yang saya persiapkan waktu itu? BENAR, saya hampir tidak disibukkan dengan hal-hal teknis sama sekali. Termasuk ritual ‘nyalon’. Entah, pikiran dan perasaan saya seperti tak mengizinkan kaki ini melangkah ke tempat2 perawatan khusus caten (calon penganten). Atau hal-hal teknis lain yang berhbngan dengan penampilan fisik. Padahal tak kurang2 teman2 selingkaran ngomporin, na sudah nyalon belum? nanti ketemu camer lho de el el. Maklum H-7 akad nikah masih di jogja, dan hari-hari saya masih dipenuhi dengan agenda kerja, tesis, dan amanah2 da’wah begitulah. Ahh soal teknis saya kira teman2 pasti sudah lolos akreditasi hehe.

Kembali ke topik. Jawaban saya atas pertanyaan penting itu selalu sama, bahwa yang tak kalah penting untuk dipersiapkan adalah ilmu, niat dan mental. Oke, mungkin poin ilmu sudah jauh-jauh hari sudah dipersiapkan sebelum calon jodoh menampakkan dirinya dalam kehidupan kita. Tetapi ingat dan sadar diri bahwa memori kita terbatas, kita perlu proses recall (mengulang) apa-apa yang telah kita pelajari sebelumnya. Jangan salah, ketika membaca lagi bisa jadi ada hal2 yang ternyata baru kita ingat saat membacanya lagi sebelum akad. Tentang hak dan kewajiban suami istri, dst. PENTING untuk dibaca ulang.

Kedua, Niat. Yang saya alami, ada banyak lintasan pikiran liar sejak saya menerima proposal biodata suami kala itu. Ya, mulai dari pikiran yang negative/positif, yang materialis/ idealis dst. Disinilah peran penting tajdidun niat (memperbarui niat) secara terus menerud. Kenapa? Tidak menutup kemungkinan panah cinta jatuh sejak mata membaca proposal biodata (belum bertemu/ taaáruf) dikarenakan aspek fisik. Who knows? Sampai sini saja, kita perlu untuk memperbarui niat kita untuk menikah. Apalagi saat melanjutkan ke proses-proses berikutnya, hingga akad. Allaahu akbar. Selamat menikmati masa penantian yang tak kalah ‘indah’ J

Ketiga, Mental. Kenapa mental? Bukankah ketika saya mengatakan saya siap menikah itu artinya tak ada masalah dengan mental saya untuk menikah? BENAR, tapi itu hanya sebagian mental yang saja yang harus dimiliki. Mental yang lain? Well, menikah adalah pintu gerbang awal kita memasuki kehidupan baru kita. Sedangkan, kita belum tahu bagaimana dan akan seperti apa kehidupan baru kita nantinya setelah pintu gerbang ini dibuka. Yakin akan baik2 saja? Mulus-mulus saja? Yakin pasti bisa ikhlas menerima kekurangan pasangan dan keluarganya, nantinya? BENAR. Karena kita tak pernah tahu bagaimana Allah siapkan instrument bahagia dan sedih untuk kita dan pasangan, maka Di sinilah letak pentingnya menguatkan mental kita menjelang akad nikah. Perkuat mental, bahwa ini adalah takdir terbaik dari Allah apapun nantinya ujian yang Allah berikan. Perkuat mental, bahwa setelah menikah kita dan pasangan akan terus berusaha menjadi lebih baik dan solih, dan seterusnya. Perkuat mental, bahwa bergenggaman erat saat diterpa angin dan badai kehidupan itu hal paling penting. Tanam dan perkuat terus mental-mental itu sebelum akad, sehingga setelah akad kita tak lama-lama terbuai oleh surge dunia yang sangat-sangat melenakan. Selamat menikmati masa penantian yang tak kalah berat dan tak kalah indahnya.

Salam, Ana https://anakhoiruroh.wordpress.com/2015/04/11/cintaku-hanya-untuk-jodohku/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s