3 Bulan perjalanan ‘Zahra’


IMG_20150128_170327_e1Siapa Zahra? Zahra adalah nama imajiner yang suami sematkan pada sosok anak kami nantinya. Padahal saya belum hamil kala itu, usia pernikahanpun baru satu minggu. Sejak awal menikah, suami yang mengawali untuk bervisualisasi seolah-olah sosok  Zahra telah ada di tengah kami. Misal, ketika tiba-tiba pintu rumah tertutup karena terdorong angin. suami tiba-tiba mengucapkan ‘lho, Zahra lagi mainan pintu ya nak’ atau ketika berangkat kerja suami selalu berpamitan kepada saya lalu kepada Zahra, seolah-olah zahra sudah ada dalam kandungan. Padahal saya juga belum hamil dan kebiasaan bervisualisasi seperti ini sudah dibiasakan oleh suami sejak awal menikah hingga sayapun ikut terbiasa melakukan visualisasi seperti ini.

Akhir januari 2015,  usia janin dalam kandungan saya berusia kurang lebih 13 minggu. Tepat beberapa hari setelah  saya melalui ujian akhir tesis di Fakultas Psikologi UGM. Masih teringat, saat itu butuh perjuangan keras untuk bisa mengejar deadline ujian tesis sebelum tanggal 31 Januari 2015. Bagaimana tidak, untuk berdiri saja saya tidak bisa tahan lama karna akan berujung mual dan muntah, serta pusing. Sedangkan kultur di fakultas jika melaksanakan ujian harus mempresentasikan dengan berdiri. Belum lagi, dua bulan pertama saya harus melawan untuk betah dengan TESIS. Bisa dibayangkan, baru menyentuh laptop, membuka tesis, tidak lama mual-mual, pusing dan seterusnya. Kondisi juga sedang LDR. Suami harus kerja di Surabaya. Rasanya, kalau istilah jawanya ‘ngenes banget’ lah pokoknya kondisi saya. Tapi tetpa diiringi rasa syukur tentunya. Saat ketahuan bahwa saya hamilpun kondisi kami sudah dlam kondisi LDR. Kesimpulannya, semua di luar rencana. Yang awalnya targetnya awal Desember sudah ujian dan langsung balik ke Jatim, jadi mundur sampai dua bulan karena kondisi saya yang sangat lemah dan tidak memungkinkan.

Belum lagi selama saya LDR harus hubungi akhwat demi akhwat untuk membelikan ini itu dan untuk mengantar kesana kemari. Seringnya hanya untuk membelikan makanan yang sedang saya inginkan. Masalahnya makanan yang saya inginkan harus dibeli di tempat yang juga sudah saya tentukan jadi tidak memungkinkan berangkat sendiri. Kenapa segitunya? siapa yang ingin menyiksa diri, begitu juga dengan saya waktu itu tapi jika makan makanan yang tidak sedang diinginkan pasti muntah padahal dalam kondisi tidak hamil mungkin makanan apapun kalau lapar bisa saja masuk Ahhhh pokoknya merasa jadi seorang Ana yang aneh lah dua bulan ini. Alhamdulillaah ada mbah yang slalu menguatkan ‘jangan stres na, biar gak mual dan muntah terus’. Sepertinya mbah juga membca kalau ada faktor stres yang memicu saya untuk mual dan muntah terus.

Singkat cerita, setelah suami datang dan menemani saya di Jogja dengan alasan kondisi saya yang lemah, setelah beberapa kali priksa akhirnya kami mendapat rujukan untuk USG dari bidan tertuju pada RSKIA Sadewa Yogyakarta. Pergilah kami ke RSKIA ini. Pemeriksaan dan obrolan singkat dengan dokter kandungan hanya berlangsung beberapa menit saja (kurang lebih hanya 5 menit). Hasil USG pun sudah dijelaskan  dokter saat alat USG masih menempel di perut saya, setelah  hasil USG dicetak kami pulang ke rumah.

Sesampai di rumah mbah (tempat kami tinggal selama di jogja), sujud syukur tersungkur sepuasnya adalah hal pertama yang saya lakukan. Bersama air mata ini tak henti menetes dengan derasnya. Antara ungkapan rasa tak percaya, syukur, takjub, senang, haru bercampur jadi satu terungkap dalam tetesan-tetesan air mata ini. Ini benar-benar tangisan yang tak bisa tertahan dan tak disangka. Rasanya ada mesin otomatis yang terdorong oleh rasa dalam hati yang begitu mendalam sehingga mata ini meneteskan air mata dengan kuat nya. Allaahu akbar.!!!

Dalam pikiran saya saat itu, apa? ada sosok yang akan hidup dalam tubuh saya saat ini? dia akan lahir dan hidup bersama saya? saya yang akan melahirkannya?  saya harus mendidiknya? merawatnya dan seterusnya. ahhhh maklum ini pengalaman pertama saya hamil. Serasa tak percaya.

Setiap melihat hasil cetak USG, ada berjuta rasa yang terwakili dengan senyum. Ada berjuta pikiran yang terwakili dengan mata terpejam.  Ada berjuta khawatir yang terwakili dengan bait-bait do’a.

Doakan kami semoga menjadi orang tua yang shalih dan bisa mendidik anak-anak menjadi shalih. Aamiin

2 thoughts on “3 Bulan perjalanan ‘Zahra’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s