Secuil Romeantisme antara Indonesia Palestin


Ya ada secuil romantisme antara keduanya. Betapa tidak, dua negri ini saling memuji, bersimpati, bahkan empati.  Kami di Indonesia tak henti memuji saudara-saudara kami di Palestina yang begitu kuat bertahan membela haknya dari Israil, sedikitpun tak tergoda untuk menyerah dan merelakan negerinya terlepas hanya karna siksaan fisik kaum Israil laknatullaah. Bagaimana kami bisa menahan pujian, dan simpati ketika para anak-anak dapat rela turut mengorbankan jiwa raganya untuk melawan penjajah negerinya, atau ketika para pengahafal Al-qur’an dari kalangan anak-anak kian bertambah pesat di tengah kondisi yang kian mengancam jiwa raga, kami semakin tertegun ketika membaca laporan WHO tentang kondisi psikologis warga Palestina, Nyaris dari jumlah penderita depresi maupun PTSD (post traumatic stress disorder), tetap ada tapi kecil sekali (terlepas dari variabel muslim).

Well, simpati dan empati begitu terlihat ketika Gaza di serang, dan di Indonesia kami tak bisa tinggal diam. Aksi solidaritas, suntikan bantuan mulai dari uang, tenaga medis, dan seterusnya sigap langsung terkumpul untuk bumi Palestina. Tak henti sampai disini, kami memiliki  organisasi Komite Nasional untuk Rakyat Palestina yang fokus bergerak untuk Palestina. Singkatnya banyak hal ‘romantis’ untuk Palestina.

Next, Presiden tercinta saat ini ternyata juga menyediakan beasiswa studi untuk rakyat Plestina. Yang penulis ketahui secara langsung, adalah mahasiswa kedokteran dari Palestina di Univ. Brawijaya Jatim, dan yang kedua adalah mahasiswa s3 psikologi UGM. Yang beberapa minggu yang lalu beliau sudah lulus dan satu hari setelah seminar ujian terbuka langsung terbang ke negeri asalnya.

Apa yang menarik? Kisah mahasiswa yang kedua inilah yang menjadi motif ingin menuliskannya dalam note.

*********

Benar2 sesuai namanya, Fakultas Psikolgi. Setiap mahasiswa yang berulang tahun saja akan mendapatkan ucapan selamat tepat jam 00.00 pada hari ulang tahunnya. Pun ketika berada dalam forum ‘pesta’ seminar ujian terbuka disertasi mahasiswa dari Palestina tersebut, terasa sekali bahwa ini memang fakultas Psikologi. Sampai ada dosen yang berkostum serba hitam (gamis), bahkan memakai cadar saat menghadiri acara ini.J

#Tidak menyangka

Singkat certa kawan, ternyata selama ini beasiswa yang seharusnya beliau dapatkan dr Indonesia, tidak didapatkan pada waktu dan dengan jumlah yang seharusnya.  So, pernah merasakan di usir dari kos, sehingga bertempat tinggal di salah satu rumah dosen kami, tak jarang biaya teknis perkuliahan (ex: print tugas) dibantu oleh para dosen-dosen di fakultas. Romantisme keduanya begitu terasa di saat2 seperti ini. Ahhh begitulah🙂

#relasi romantisme tak bertepuk sebelah tangan kawand.

 Ujian terbuka selesai. Kami siap menyambut di luar ruangan dengan sekian puluh tangkai bunga segar, dan satu grup music dari teman fakultas yang siap dengan lagu celebration-nya. Tiba saat keluar dari ruang seminar ia memberikan kesan2nya selama di Indonesia (Yogyakarta tepatnya) ‘Terima kasih, orang Indonesia ramah2, baik sekali. ……bla..bla’ *lupa lengkapnya.

#ditutup dengan makan2 hehe
Satu sudut khusus menu dari Palestina bernama ‘Kapsa’ Palestina, klo di Indonesia mungkin Rendang Padang. Tapi tetap beda.

Sekian

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s