Sejatinya, diri ini tak pernah MEMBERI


 

Pagi yang begitu cerah, mata telah dibuka, fisik siap bekerja, hati siap menikmati cintaNya. Daftar urusan dunia telah terdata, tak tertinggal segala kepentingan yang bisa mengantar ke surgaNya. Siapa saja yang ada dalam pikiran ini setiap harinya? Hal apa saja yang terpikir dalam pikiran ini? Dan apa saja yang memenuhi memori tak terbatas di otak ini?

24 tahun hidup di dunia, pastinya telah merasakan pengalaman diberi dan memberi. Pertanyaan refleksinya, Sudah berapa orang yang mendapatkan hadiah dari tangan lemah ini? atau, akan ada berapa orang lagi yang akan atau sedang direncanakan akan menerima tali asih dan hal yng bermanfat dari  hambaNya yang masih hina ini?. Ya, tali asih sengaja saya sebut, karena memang pemberian tak terbatas pada materi, tapi memberi segala hal yang bisa mengikat hati-hati ini dalam dekap hangat kasih sayangNya. Lalu, pernah dan masih adakah rasa BANGGA dengan segala hal yang telah di ‘beri’ kan kepada yang lain? Masih ada rasa itu?. Mengoreksi benar-benar dan mempertanyakan dengan serius pada hati ini.

 

Apapun bentuk pemberian dari diri ini masuk dalam katagori ‘pemberian’, baik waktu, tenaga, ide, semangat, nasihat, perhatian, simpati, empati, materi, dan semua hal lainnya yang bisa diberikan kepada manusia. Pastinya, semua dari diri kita pernah melakukan amalan ‘memberi’ tersebut. Terlebih jika amal ‘memberi’ itu berwujud pada hal-hal kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, maka tombol rasa BANGGA akan terpencet menyala dalam hati.

 

WAJAR, Manusiawi, STOP. tak perlu banyak porsi dan tak perlu waktu lama untuk mentoleransi  sehingga tombol ‘BANGGA’ lama menyala.  Kenapa? Karena sejatinya tak ada yang pernah diri ini berikan, Sedikitpun tak pernah ada, sekali lagi TAK PERNAH ADA.  Apa yang mau di banggakan?

Definisi memberi adalah memindahkan kepemilikikan dari diri kepada orang lain, tanpa imbalan balik. Beda dengan ‘MEMBELI’.  Apa yang mau dibanggakan??? sedang, ketika diri ini MEMBERI sebenarnya diri ini hanya MEMINJAMKAN yang nanti pasti dikembalikan.  Begitu al qur’an mengajarkan dalam surah al Hadiid ayat 11:

 

 Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang mulia.

 

Pinjaman, adalah segala dan setiap infaq yang dikeluarkan di jalan Allah dengan niat yang tulus dan ikhlas. Semuanya adalah pinjaman bukan pemberian. Begitu sejatinya. Allaahu a’lam

 

#Tadabur ayatullah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s