True and Inspiring Story by Miyuki

miyuki

Negeri Matahari, selalu manis untuk dinikmati. Selalu indah untuk diselami, tentang filodofi hidup orang2 di negri sakura ini. Kali ini tentang Miyuki Inoue dan Ibu nya. Teman2 dr sastra jepang mungkin sudah tak asing dg kisah nyata ini.

Miyuki Inoue, Terlahir dg berat 500gr, di vonis hanya bertahan hisup 5 hari, di inkubator 5-7 bulan, mata tidak bisa melihat total, dan sang ibu berstatus single. Psikologis sang ibu begitu terpuruk dengan kompleksitas kegundahan dan ujian kehidupannya, namun bersama dengan kondisi seperti itu sang ibu justru memiliki semangat dan keyakinan luar biasa bahwa ia bisa mengusahakan agar bayinya bisa berkesempatan hidup di dunia dan ia yakin bisa membesarkannya dengan kasih sayang terbaiknya.

Ada banyak hal yang sepertinya sulit terjadi, sulit dilakukan, dan sulit di raih jika memakai kacamata orang normal. Namun, beginilah sejarah nyata kisah Miyoki dan Ibu terkasihya.

Di awal kisah emosi kita akan dibuat kesal dan gemes terhadap optimisme sang Ibu, yang selalu mendidik dan memperlakukan Miyuki layaknya anak normal. Bentakan dan marahan, sering terlontak dr Ibu, hanya karena Miyoki tak mampu melakukan aktifitas fisik selayaknya anak-anak normal lainnya. Tak jarang, protes balik dari mulut manis Miyuki pun selalu terlontar balas. Misal: ‘ibu ini seperti setan’ dst. Bagaimana tidak harus terpaksa terlontar kata yang sesungguhnya juga tidak pantas, Miyuki sering di bentak hanya karena menaiki tangga lalu terjatuh, atau ketika berjalan di stasiun tongkatnya terjatuh, dan bahkan sang ibu memaksanya belajar menaiki sepedah kayuh.

Tetapi di akhir kisah air mata kita mungkin akan deras menetes karena Miyuki dan pembaca novel ini akan merasakan betapa keberhasilan2 luar biasa yg diraih oleh Miyuki tidak lepas dri segunung optimis sang Ibu.

Miyuki pun berhasil menaiki sepedah seperti anak normal, memenangkan kejuaraan menulis (tingkat nasional di Jepang) dan isi tulisannya tidk lepas dr kisah nyata antara ia bersama sang Ibu yang menggugah banyak jiwa di sekitarnya, tentang arti kasih, perjuangan, cinta, kesungguhan, Tuhan dst.

Sastra Islam (Jogja Muslim Festival)

Originally posted on Journey of Sinta Yudisia :

Quran bukan karya sastra tapi membawa pengaruh besar pada dunia sastra.
Dalam sejarah, sejak Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, maka setiap orang membicarakannya. Membantah tentangnya. Mendiskusikannya. Menjelaskannya. Membelanya. Di kemudian hari, Quran disalin, diperbanyak. Sebagian berusaha meniru dan memalsukannya. Sebagian besar menghafalkan dan memelajari isinya, bersyair dengannya, membuat prosa dan sajak yang dipelajari dari cara Quran membuat rima.
childrens3
Maka , tak ayal lagi Quran membawa pengaruh amat sangat besar bagi sastra di dunia Islam dan merambah hingga seantero dunia. Bersama Quran pula, bagai diaspora menyebar talenta, intelektual, semangat belajar, menimba ilmu, menuliskan dan menyebarkan ideologi serta karya sastra. Bahasa Quran terserap menjadi bahasa-bahasa bangsa seperti Turki Utsmani, Farisi Firdawsi, Sanskerta menjadi Urdu, Bantu menjadi Hausa di Barat dan Sawahili di Timur (Afrika).
Warisan besar sastra Arab, sastra Islam ini menghubungkan dengan arus intelektual dunia, menumbuhkan kreativitas dan ratusan ribu atau bahkan jutaan karya tulis!
Beberapa jenis karya Islam yang…

View original 837 more words

Secuil Romeantisme antara Indonesia Palestin

Ya ada secuil romantisme antara keduanya. Betapa tidak, dua negri ini saling memuji, bersimpati, bahkan empati.  Kami di Indonesia tak henti memuji saudara-saudara kami di Palestina yang begitu kuat bertahan membela haknya dari Israil, sedikitpun tak tergoda untuk menyerah dan merelakan negerinya terlepas hanya karna siksaan fisik kaum Israil laknatullaah. Bagaimana kami bisa menahan pujian, dan simpati ketika para anak-anak dapat rela turut mengorbankan jiwa raganya untuk melawan penjajah negerinya, atau ketika para pengahafal Al-qur’an dari kalangan anak-anak kian bertambah pesat di tengah kondisi yang kian mengancam jiwa raga, kami semakin tertegun ketika membaca laporan WHO tentang kondisi psikologis warga Palestina, Nyaris dari jumlah penderita depresi maupun PTSD (post traumatic stress disorder), tetap ada tapi kecil sekali (terlepas dari variabel muslim).

Well, simpati dan empati begitu terlihat ketika Gaza di serang, dan di Indonesia kami tak bisa tinggal diam. Aksi solidaritas, suntikan bantuan mulai dari uang, tenaga medis, dan seterusnya sigap langsung terkumpul untuk bumi Palestina. Tak henti sampai disini, kami memiliki  organisasi Komite Nasional untuk Rakyat Palestina yang fokus bergerak untuk Palestina. Singkatnya banyak hal ‘romantis’ untuk Palestina.

Next, Presiden tercinta saat ini ternyata juga menyediakan beasiswa studi untuk rakyat Plestina. Yang penulis ketahui secara langsung, adalah mahasiswa kedokteran dari Palestina di Univ. Brawijaya Jatim, dan yang kedua adalah mahasiswa s3 psikologi UGM. Yang beberapa minggu yang lalu beliau sudah lulus dan satu hari setelah seminar ujian terbuka langsung terbang ke negeri asalnya.

Apa yang menarik? Kisah mahasiswa yang kedua inilah yang menjadi motif ingin menuliskannya dalam note.

*********

Benar2 sesuai namanya, Fakultas Psikolgi. Setiap mahasiswa yang berulang tahun saja akan mendapatkan ucapan selamat tepat jam 00.00 pada hari ulang tahunnya. Pun ketika berada dalam forum ‘pesta’ seminar ujian terbuka disertasi mahasiswa dari Palestina tersebut, terasa sekali bahwa ini memang fakultas Psikologi. Sampai ada dosen yang berkostum serba hitam (gamis), bahkan memakai cadar saat menghadiri acara ini.J

#Tidak menyangka

Singkat certa kawan, ternyata selama ini beasiswa yang seharusnya beliau dapatkan dr Indonesia, tidak didapatkan pada waktu dan dengan jumlah yang seharusnya.  So, pernah merasakan di usir dari kos, sehingga bertempat tinggal di salah satu rumah dosen kami, tak jarang biaya teknis perkuliahan (ex: print tugas) dibantu oleh para dosen-dosen di fakultas. Romantisme keduanya begitu terasa di saat2 seperti ini. Ahhh begitulah :)

#relasi romantisme tak bertepuk sebelah tangan kawand.

 Ujian terbuka selesai. Kami siap menyambut di luar ruangan dengan sekian puluh tangkai bunga segar, dan satu grup music dari teman fakultas yang siap dengan lagu celebration-nya. Tiba saat keluar dari ruang seminar ia memberikan kesan2nya selama di Indonesia (Yogyakarta tepatnya) ‘Terima kasih, orang Indonesia ramah2, baik sekali. ……bla..bla’ *lupa lengkapnya.

#ditutup dengan makan2 hehe
Satu sudut khusus menu dari Palestina bernama ‘Kapsa’ Palestina, klo di Indonesia mungkin Rendang Padang. Tapi tetap beda.

Sekian

 

Sisi lain wajah pendidikan

Ada apa dengan pendidikan ini. Kawan, kita telah sama-sama merasakan pendidikan di pertiwi ini, dan sama-sama merasakan bagaimana pendidikan mencetak karakter dalam diri kita, sehingga kita bisa ‘seperti’ saat ini. Jelas, kita tidak akan pernah bisa merasakan hal tersebut jika tak pernah melakukan upaya perbandingan dan penilaian terhadap pendidikan itu sendiri. Mungkin ini kasuistik (tak bisa digeneralkan), tapi mungkin juga ini adalah kelemahan yang belum terungkap dan terevaluasi dengan baik.

Memori ini, mungkin masih merekam kasus-kasus yang dilakukan oleh mereka yang berseragam dengan menyalahi nilai2 universal kehidupan manusia (pembunuhan, suicide, dll). Atau merekam ungkapan siswa SD yang seperti ini ‘Saya harus belajar matematika lebih giat lagi agar bisa bertahan di kelas unggulan ini, kalau tidak mati aku dah’, dangkal sekali cita-cita malaikat kecil ini, bukan?atau kasus riil lagi yang seperti ini, seorang mahasiswi di kampus no wahid di kota penulis domisili saat ini (Ngayogya), riwayat pendidikannya selalu masuk sekolah fafvorit di kota ini mulai dari SD-SMA, diterima di PT tersebut pun melalui jalur khusus (prestasi), tahun 2006 ia masuk PT, 3 semester semua beban SKS telah diselesaikan, Lalu? 

Pertanyaan besarnya adalah, kenapa semakin bertambah hari, menjadi semakin tdk produktif? TA saja belum rampung, sedang masa studi ibarat sudah di ‘ujung tanduk’, gejala-gejala (maaf) distress itupun terlihat. Sang ibu tercinta tak elak mengeluhkan dan menyayangkan sekali hal tersebut. Wajar, karena pengorbanan orang tua tak sebatas materi tetapi juga beban sosial lainnya. Benar, evaluasi tak hanya cukup pada pendidikan saja tetapi juga orang-orang terdekatnya (keluarga). Bagaimana keluarga mengasuh, memberikan contoh dalam menghadapi permasalahan kehidupan dan lain-lain.

Akhirnya, penulis hanya mampu mengatakan kalimat yang mungkin juga tidak banyak membantu menenangkan pihak orang tua itu seperti ini, ‘Ibu, dukungan harus terus diberikan ke mbak x, ada hal yang kita belum tahu tentang apa yang terjadi atau apa yang mungkin sedang dipendam dan menjadi beban mbak x, mungkin saja dia sedang butuh teman untuk sekedar ‘mendengarkan’ keluhan dan isi hatinya, ………’

Intinya, penulis ingin mengingatkan lagi bahwa keberhasilan-keberhasilan akademik (yang tercetak dalam institusi pendidikan) tak menjadi ukuran keberhasilan seseorang menyelesaikan permasalahan kehidupan yang riil. Tidak hanya butuh nilai akademik untuk menghadapi permasalahan di kehidupan riil, tetapi juga sebuah nilai ketangguhan pribadi. Ketangguhan pribadi itu terinci dalam kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual.

From Great Mom

From: Yoyoh Yusroh

Date: 2011/5/18

Subject: Nasihat untuk sang putera

To: Aizza Jundana

Wahai puteraku …

Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia ..

Janganlah berbicara dalam berbagai urusan ..

Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya ..

Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara ..

Hati-hati dengan isu .. jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat ..

Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh .. hadapi dengan berbuat baik kepadanya .. tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih

 

Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”.

 

Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran .. atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk .. bergembiralah .. sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab,

· anjing yang mati tidak akan ditendang,

· dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

 

Wahai puteraku ..

Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah .. dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!

 

Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awal .. sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!

 

Akan aku ceritakan kepadaku kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar ..

Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!

Akan aku ajak engkau ke sarang singa .. akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!!

Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar .. dan perutnya melilit-lilit .. jangan mencuri jerih payah orang lain .. sebab engkau menjadi keji!

 

Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.

 

Wahai puteraku ..

Biasakan engkau bersyukur .. kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!

Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia .. sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur

Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!

 

Wahai puteraku .. ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!

Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!

 

Wahai puteraku …

Persiapkan alternatif untuk segala urusan .. agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!

Manfaatkan segala peluang .. sebab peluang yang datang sekarang .. bisa jadi tidak akan berulang!!

 

Jangan berkeluh kesah .. aku harap engkau optimis .. siap menghadapi kehidupan ..

Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!

 

Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah .. jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya ..

Sebab dia tidak menciptakan dirinya .. dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa

 

Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu .. sebab Allah-lah Dzat yang menutupi .. dan mencintai orang yang menutupi!

Jangan menzhalimi siapa pun .. dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!

 

Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim .. engkau akan terheran-heran .. bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!

 

Jangan mendebat .. dalam perdebatan .. kedua pihak merugi.

Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita .. semua kita kalah .. baik yang merasa menang .. dan yang merasa belum menang!

 

Jangan monopoli pendapat .. yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!

Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang .. dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar .. tegarlah dan jangan terpengaruh!

 

Wahai puteraku ..

Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!

Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!

 

Di Cina .. jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai ..

Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!

Jika bibirmu terbuka karena senyuman .. dengan cepat .. terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya

 

Jika orang meragukanmu, bela dirimu .. jelaskan .. dan beri keterangan pembenarannya!

Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan .. jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!

Wahai puteraku .. jauhkan dirimu dari hal ini .. aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!

 

Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan .. sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?

Karena itu .. santai saja .. jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat ..

“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!

 

Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu .. sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!

Tataplah hari esok .. persiapkan diri .. dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!

Jadilah orang yang mulia .. berbanggalah dengan dirimu!

Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu ..

Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar .. hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!

Yoyoh Yusroh

Komisi I DPR RI

Sent from my iPad

#Islamedia - Berikut adalah korespondensi saya yang terkahir melalui email dengan almarhumah ibu saya, ummi Yoyoh Yusroh, 3 hari sebelum beliau dipanggil oleh Allah SWT tanggal 21 Mei 2011 kemarin.

Nasihat terakhir dari ummi ini akan selalu kuingat.

Selamat jalan ummi, kami ikhlaskan kepergianmu. Semoga Allah menempatkan ummi di surganya yang mulia.

 

sumber : Aizzajundana blog

ImageImage

<!– Facebook Badge START –><a href=”https://www.facebook.com/ana.khoiruroh.3&#8243; target=”_TOP” style=”font-family: &quot;lucida grande&quot;,tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; font-variant: normal; font-style: normal; font-weight: normal; color: #3B5998; text-decoration: none;” title=”Ana Khoiruroh”>Ana Khoiruroh</a><br/><a href=”https://www.facebook.com/ana.khoiruroh.3&#8243; target=”_TOP” title=”Ana Khoiruroh”><img src=”https://badge.facebook.com/badge/100002419078154.782.683633821.png&#8221; style=”border: 0px;” /></a><br/><a href=”https://www.facebook.com/badges/&#8221; target=”_TOP” style=”font-family: &quot;lucida grande&quot;,tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; font-variant: normal; font-style: normal; font-weight: normal; color: #3B5998; text-decoration: none;” title=”Make your own badge!”>Create Your Badge</a><!– Facebook Badge END –>

The Silent Missed

Sepanjang jalan, lamunanku terbaur dengan kerindangan hutan Jati Jawa, terkoyak oleh kencangnya angin dan deras hujan yang mengkhawatirkan, berharap sangat akan ban bus tak tergelincir oleh licin dan keloknya jalan. Lamunan sedikit teredam oleh terkesimanya hati akan arti al mursalatNya. Tiba tersadar akan jalan yang masih panjang, sedang segera ingin Surabaya di depan mata. Tersadar juga akan mega merah telah mengalihkan siang pada sudut bumi yang lainnya. Sawah hutan makin terasa diam berdampingan menyambut gelap tiba. Sembari akal mengorek noda-noda riya’, ma’siat, dan noda-noda dunia yang masih bersandar di hati dan pikiran ini.

 

Semua kata hanya terurai dalam pikiran satupun tak ada yang terucap. Ya, berbagai macam pikiran melintas deras dan begitu cepat datang dan pergi. Pandang mata tetap pada kaca dengan ni’mat melihat alam ciptaanNya. Sesekali mata berbinar, mimic tersenyum, kening mengerut atau mata terpejam memperkuat titik focus pikiran.Nyaris tak tertarik memulai obrolan dengan penumpang di sebelah.  Sempat terpikir, mungkin penumpang di sebelah akan merasa aneh mengamati saya. Ah acuh saja selama pikiran ini masih butuh waktu untuk berpikir produktif, bela diriku dalam hati. Sesekali ekspresi pikiran tak cukup terlihat dari ekspresi wajah, melainkan juga gerak tangan, kepala dan lainnya. Mungkin seolah terlihat begitu nikmat nya diri ini berbicara dengan pikiran diri sendiri.

 

Ya, banyak hal melintas dengan cepatnya datang dan pergi, satu persatu memunculkan diri diluar kendali diri ini, kognisi mencoba mengolah dan mempola atau memetakannya.  Dan saya pun menikmatinya. Lintasan-lintasan yang hampir secepat kilat itu adalah seputar pengalaman masa lalu, ucapan pesan dan nasihat para guru dan asatidz, kalimat-kalimat yang terbaca dalam buku dan terekam di memori, al-qur’an, hadist, dan seterusnya. Singkatnya, dari banyak hal yang tiba-tiba terlintas itu memberikan satu kata kunci hikmah yang akhirnya saya renungkan. Sehingga memperpanjang masa saya untuk diam menikmati  kerja pikiran.

 

 Satu kata kunci dari semua lintasan pikiran itu adalah ‘the Silent Missed’.  Sebuah noun clause ini sepertinya sangat cocok mencerminkan semua lintasan pikiran saya selama 10 jam perjalanan kala itu. 

 

Ya, the silent missed. Exactly. Tak peduli detik yang terus berlalu, masih diam dan memikirkan tentang diam itu sendiri, masih diam memikirkan diri saya sendiri yang masih terdiam, tak henti sampai disini, diam-diam saya mengamati diri saya sendiri yang sedang diam dan begitu menikmati ke-diam-an, tak lupa mengevaluasi selama tadi diam, apa yang di dapatkan? Apa yang telah dilakukan dengan pikiran-pikiran saya? Apa manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain?

 

Well, the silent missed adalah istilah yang merujuk pada sikap diam yang dirindukan.  Ya, ternyata banyak dari macam sikap diam yang akan dirindukan. Karena keberadaan sikap itu kaan lebih menenangkan dan menentramkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

 

Jelas, tulisan ini tidak tidak hendak membela mereka yang diam karena underestimate, minder, kurang percaya diri atau alasan-alasan lain yang sifatnya cenderung negatif memandang diri sendiri. Yang harus digaris bawahi adalah, sangat beda antara diam karena minder dengan diam karena malu, tawadhu’ dan rendah hati.

 

Pada satu perkuliahan konsep-konsep psikoterapi, seorang prof psikologi menyampaikan  kesimpulan dari pengalaman di lapangannya, bahwa kebanyakan diantara mereka yang suicide, atau yang rentan mengalami gangguan psikologis adalah mereka yang pendiam, kurang ekspresif dan seterusnya. Tidak salah akhirnya jika kemudian muncul stigma terhadap mereka yang pendiam. Tidak benar dan tidak salah total dari pernyataan ini. Tapi harus hati-hati memaknai sikap pendiam ini.

 

Jelas, kita tidak akan mencela buta teman-teman yang memiliki perangai pendiam. Bukankah para filosof dan ulama’ besar juga lebih banyak diam dari pada bicara nya karena lebih banyak berpikir dan menuliskan pikirannya. Intinya, kita belum bisa memberi nilai positif atau negatif terhadap mereka yang terlihat lebih pendiam sebelum mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka.

 

Satu lagi, bahwa tulisan ini tidak hendak mengajak kawan-kawan menjadi pribadi pendiam. Sama sekali TIDAK. Hanya ingin menghadirkan kembali dalam pikiran kita bahwa sikap ‘DIAM’ tidak kalah penting dengan kemampuan berbicara. Kitapun mungkin tak kan pernah menemui pelatihan-pelatihan yang menawarkan untuk menjadi diam.  Masih melekatkah kata pepatah yang satu ini, bahwa lidah itu setajam pedang. Bagaimana bisa lidah disetarakan dengan pedang yang begitu tajam yang bisa menghilangkan nyawa seseorang.

 

Nah, lamunan menarik pada lintasan memori tentang seorang gadis belia yang harus di rawat di RSJ saat itu. Rekam psikologis yang teringat saat itu adalah, gadis ini memang lebih pendiam dari teman-temannya, tetapi dikenal sebagai pribadi yang baik. Salah satu pemicu yang membuat ia mengalami gangguan kejiwaan adalah ejekan dari orang-orang di sekitarnya meski terbungkus dengan canda. Dalam kasus ini apakah semata kita akan menyandarkan korelasi pada sikap dia yang pendiam? Kurang adil sepertinya. Lebih bijak jika menyandarkan pada aspek ‘apa yang ada dalam pikirannya’. 

Ya, singkatnya ternyata diam dalam kondisi dan waktu tertentu itu lebih menenangkan dan menentramkan. 

*to be continued